Senin, 25 November 2013

Cinta dan Kasih Sayang Bapak Kepada Anaknya (Tugas Kedua IBD)

Tugas Ilmu Budaya Dasar

ILMU BUDAYA DASAR
Disusun oleh: Nurul Fahsya (NPM: 36413716)
Kelas: 1ID06
Fakultas Teknologi Industri
Jurusan Teknik Industri

UNIVERSITAS GUNADARMA











Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT karena atas berkat rahmat hidayahnya saya dapat menyelesaikan tugas kedua saya mengenai studi kasus tentang perjuangan seorang bapak yang rela menjual ginjalnya demi menebus ijazah anaknya, kasus ini pernah terjadi di Jakarta sebelumnya. Tidak lupa juga saya ucapkan banyak terimakasih kepada sumber yang telah membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini. Saya berharap ada pelajaran yang dapat dipetik oleh pembaca atas kasus yang saya bahas.

Hormat Saya


Nurul Fahsya
36413716






BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Semua orang tua sayang kepada anak-anaknya, mereka tidak mau anak-anaknya berkarakter buruk. Tetapi ada orang tua yang paling buruk yaitu yang berlebih-lebihan dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Sedangkan orang tua yang paling baik adalah yang bisa menempatkan kasih sayang dan mendidik anak pada tempatnya yang tepat. Bagi pendidik sikap dan perilaku orang tua dalam memberikan kasih sayang pada anak-anaknya tersebut idealnya dipahami sehingga sekolah menjadi rumah kedua yang dapat memberikan kasih sayang.
Secara psikologis anak-anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Orang tua sebagai pembimbing awal anak-anak harus memperhatikan apakah kasih sayang yang diberikan kepada anak-anak, karena kasih sayang merupakan pilar dan fondasi dalam pendidikan. Ketika kasih sayang terpenuhi dengan baik maka akan terwujud ketenangan jiwa, perasaan aman, percaya diri, dan timbulnya kepercayaan kepada orang tua.
Orang tua akan melakukan apapun agar cita-cita anaknya dapat tercapai. Perjuangan orang tua yang tidak dapat terbalaskan dengan apapun. Cinta dan kasih sayang lah yang menjadi pedoman orang tua mau memperjuangkan apa saja demi anaknya.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pada makalah ini saya akann membahas tentang “Cinta dan Kasih Sayang Bapak Kepada Anaknya” yang akan saya analisa berdasarkan materi Ilmu Budaya Dasar sub bab Cinta dan Kasih Sayang.
  
1.2  Tujuan Penulisan
Tujuan penuliasan makalah ini adalah:
1.      Memenuhi tugas Ilmu Budaya Dasar yang kedua
2.      Memahami pengertian cinta kasih dan hasih sayang
3.      Mengerti pengertian tentang cinta menurut agama
4.      Memetik hikmah dan pelajaran dari studi kasus yang dibuat





BAB 2
Cinta dan Kasih Sayang Bapak Kepada Anaknya

2.1 Pengertian Cinta Kasih
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka atau sayang, ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehinga kata kasih memperkuat rasa cinta, karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasih.
Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Cinta juga pengikat antara kokoh antara manusia dengan Tuhannya, seingga manusia menyembah Tuhan dengan ijhlas, mengikuti perintah-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Banyak para tokoh yang mengungkapkan pendapatnya tentang cinta kasih, diataranya ada Erich Fromm, dia menyebutkan dalam bukunya seni mencinta, bahwa cinta itu terutama memberi bukan menerima, dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan, yang paling penting dalam memberi ialah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta mempunyai unsur-unsur dasar tertentu yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan.
Cinta tingkat tertinggi adalah cinta kepada Tuhan, Rasul dan berjihad di jalan-Nya. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, suami/istri, dan kerabat. Cinta tingkat terendah adalah cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal.
Cinta kepada Tuhan, Rasul, dan berjihad di jalanNya merupakan cinta yang tidak ada duanya. Hal yang merupakan konsekwensi iman dan merupakan keharusan dalam agamanya. Bahkan itu pendorong utama di dalam penunjang agama. Tidak diragukan lagi, manusia yang sangat mencintai Tuhannya, maka ia akan merasakan kedamaian dalam hatinya, kedamaian dalam hidupnya, karena ia telah meyakini bahwa zat Tuhan lah yang Maha Sempurna, Maha Indah, Maha Agung, dan Maha dari segala Maha. Tak ada satupun selain Dia yang memiliki kesempurnaan sifat-sifat tersebut. Maka dengan ketulusan iman yang sejati itulah yang harus diikuti karena Dia lah yang Maha Tinggi, Maha Sempurna dan Maha dari segala Maha.
Hakekat cinta menengah adalah suatu energy yang datang dari perasaan hati dan jiwa. Ia timbul dari perasaan seseorang yang dicintainya, aqidah, keluarga, kekerabatan, atau persahabatan, karenanya hubungan cinta, kasih sayang dan kesetiaan diantara mereka semakin akrab.
Berangkat dari perasaan lembut yang ditanamkan oleh Tuhan dalam hati dan jiwa seseorang inilah, akan terbentuk perasaan kasih sayang dan cinta dari seseorang terhadap orang lain.
Cinta tingkat rendah adalah cinta yang paling keji, hina dan merusak rasa kemanusiaan, karena itu ia adalah cinta rendahan. Bentuknya beraneka ragam, misalnya:
1.      Cinta kepada syetan, atau sesuatu yang disembah selain Tuhan.
2.      Cinta berdasarkan hawa nafsu.
3.    Cinta yang lebih mengutamakan kecintaan pada orang tua, anak, istri/suami, perniagaan dan tempat tinggal.
Cinta mempunyai hikmah yang sangat besar, diantaranya adalah:
1.      Sesungguhnya cinta itu adalah ujian yang berat dan pahit dalam kehidupan manusia, karena setiap cinta akan mengalami berbagai macam rintangan, tetapi manusia yang telah melewati rintangan tersebut maka manusia itu telah menang, manusia itu telah menagkap hikmah dari cinta itu sendiri.
2.      Cinta telah memberikan pengaruh yang besar terhadap pola berfikirnya manusia. Cinta telah membuat manusia menjadi lebih bersemangat dalam menggapai cita-citanya. Cinta seperti power, yang berpengaruh besar terhadap semangat juang seseorang.
Banyak ilmuan yang mendefiniskan apa itu cinta, begitu banyak definisi tentang cinta, tetapi satu yang harus diketahui dan diyakini adalah, cinta tidak bisa didefinisika oleh apapun. Cinta itu beragam, cinta terhadap manusia, cinta kepada orang tua, cinta kepada teman, cinta kepada hewan peliharaan, cinta kepada diri sendiri, dan tentunya cinta kepada Tuhan dan rasulnya. Cinta memiliki tingkatan yang berbeda-beda, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Satu hal yang pasti, cinta itu dirasakan, diresapi, dan diaplikasikan dengan perbuatan. Cinta itu soft, tidak Nampak tetapi dapat kita rasakan keberadaannya.

2.2    Pengertian Kasih Sayang
Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S.Porwadarminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang  ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka didalam rumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang. Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya,  saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang  bulat dan utuh.
Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, terancamlah kebahagian rumah tangga itu. Kasih sayang merupakan sesuatu paling mendasar, yang harus di terima oleh setiap manusia, kasih sayang bisa di sebut juga sabagai suatu hak yang harus kita terima, karena peran kasih sayang secara psikologi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya seorang individu. Tentu seorang individu yang di didik dengan kasih sayang, bisa menjadi individu yang lebih baik di bandingkan mereka yang kekurangan kasih sayang, karena dewasa ini banyak sekali orang yang berpandangan bahwa uang adalah segala-galanya sehingga banyak orang tua yang lebih mementingkan mencari uang untuk anak, dan menomor dua kan kasih sayang. 
Sehingga tidak sedikit anak yang bertindak negative, melakukan hal negative yang biasa di sebut sebagai kenakalan remaja, umumnya hal itu terjadi di karenakan si anak merasa kurang di perhatikan oleh orang tuanya, dan dia melakukan hal-hal negative agar orang tuanya terganggu dan mulai memperhatikan anak tersebut. Tentu kurangnya kasih sayang harus di hindari oleh setiap orang tua, mulai memberikan kasih sayang yang lebih, dan menomor satukan kasih sayang. Tanpa kasih sayang seorang anak bisa berubah menjadi individu yang brutal, kurang perduli dengan lingkungan sekitar, dan bertindak sesuai dengan kemauan dirinya sendiri. Hal ini, terbtukti dari banyaknya penelitian, bahwa kenakalan remaja, paling banyak di karenakan factor didikan dan kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua tersebut. 
Kasih sayang mengajarkan banyak hal terhadap manusia, kasih sayang memberikan kepekaan bagi kita semua, untuk berbagi kasih terhadap sesama, kasih sayang yang mampu merubah banyak individu yang umumnya perubahan terjadi kearah yang lebih baik. Baik itu terhadap sahabat, orang yang kita cintai, atau siapa pun yang kita lihat, karena begitu banyak orang di dunia ini yang membutuhkan kasih sayang dari orang lain, tidak semua orang beruntung memiliki orang tua, memiliki orang-orang yang di kasihinya, karena begitu banyak anak yang lahir tanpa kasih sayang orang tua, begitu banyak anak yang kelahirannya bahkan tidak di inginkan oleh orang tuanya, sehingga patutlah kita memberikan kasih sayang lebih terhadap anak-anak yatim piatu, dan kita harus bersyukur karena kita jauh lebih beruntung dari pada mereka, bahkan keutamaan mengasihi anak yatim sangat di tekankan oleh rosulullah SAW, oleh karena itu rasa kasih sayang harus di tanamkan kepada siapa pun, tanpa mengenal siapa dia, dari mana asal usulnya, dan kita utamakan mereka yang jauh lebih membutuhkan, semampu kita untuk mengasihi mereka.

2.3    Cinta Menurut Agama
Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Di satu pihak, cinta didengungkan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi pihak lain dalam praktek kehidupan cinta sebagai dasar kehidupan jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia.
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain, atau juga istri dan anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasul-Nya. Berbagai bentuk cinta ini biasa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.
Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri, ia mencintai segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada dirinya. Sebaliknya ia membenci segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup hidup, berkembang dan mengaktualisasikan diri. Ia juga membenci segala sesuatu yang mendatangkan rasa sakit, penyakit dan mara bahaya. Al-Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, dan menghindari dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya, melauli ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan.
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaannya yang sangat terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup (QS, Al-Adiyat, 100:8).
Diantara gejala lain yang menunjukkan kecintaan  manusia pada dirinya sendiri ialah permohonannya uang terus menerus agar dikaruniai harta, kesehatanm dan berbagai kebaikan dan hidup lainnya, dan apabila ia tertimpa bencana, keburukan, atau kemiskinan, ia merasa putus asa dan mengira ia akan bias meperoleh karunia lagi(QS, Fushilat, 41:49)
Namun hendaknya cinta manusia pada dirinya tidaklah terlalu berlebih-lebihan dan melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri ini diimbangi dengan cinta pada orang lain dan cinta berbuat kebajikan kepada mereka.
Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan kepada orang lain, oleh karena itu, Allah ketika memberi isyarat tentang kecintaan manusia pada dirinya sendiri, seperti yang tampak pada keluh kesahnya apabila ia tertimpa kesusahan dan usahanya yang terus-menerus untuk memperoleh kebaikan serta kebakhilannya dalam memberikan sebagian karunia yang diperolehnya. Setelah itu Allah langsung memberi pujuan kepada orang-orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan dalam cintanya kepada diri sendiri dan melepaskan diri dari gejala-gejala itu adalah dengan melalui iman, menegakkan shalat, memberikan zakat, bersedekah kepada orang-orang miskin dan tak punya, dan menjauhi segala larangan Allah. Keimanan yang demikian ini akan bias menyeimbangkan antara cintanya kepada diri sendiri dan cintanya kepada orang lain, dan dengan demikian akan bias merealisasikan kebaikan individu dan masyarakat.
Cinta seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama antara suami dan istri. Ia merupakan factor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga :
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir(QS, Ar-Rum, 30:21)
Dorongan seksual melakukan fungsi penting, yaitu melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksualah terbentuknya keluarga. Dari keluarga terbentuk masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi pun menjadi ramai, bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu pengetahuan dan industry menjadi maju. Islam mengakui dorongan seksual dan tidak mengingkarinya. Jelas dengan sendirinya ia mengakui pula cinta seksual yang mennyertai dorongan tersebut. Sebab ia merupakan emosi alamiah dalam diri manusia yang diingkari, tidak ditentang ataupun ditekannya. Yang diserukan Islam hanyalah pengendalian dan penguasaan cinta ini lewat pemenuhan dorongan tersebut dengan cara yang sah, yaitu dengan perkawinan.
Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan kerinduaanya kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya saja, tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan tindakannya ditunjukkan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridha-Nya :
“Katakanlah : Jika kamu(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha pengampun lagi Maha penyanyang” (QS, Ali Imran, 3:31)
Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupannya dan menundukan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesame manusia, hewan, semua mahluk Allah dan seluruh alam semesta. Sebab dalam pandagannya semua wujud yang ada di sekelilingnya mempunyai  manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan kerinduan-lerinduan spiritualnya dan harapan kalbunya.
Cinta kepada Rasul
Cinta kepada Rasul, yang diutus Allah sebagai rahma bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya. Seorang mukmin yang benar-benar beriman dengan sepenuh hati akan mencintai Rasullah yang telah menanggung derita dakwah Islam, berjuang dengan penuh segala kesulitan sehingga Islam tersebar di seluruh penjuru dunia, dan membawa kemanusiaan dari kekelaman kesesaran menuju cahaya petunjuk.

2.4    Cinta Kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dan anal-anaknya tidak terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-anaknya, maka para ahli ilmu jiwa modern berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis seperti halnya dorongan keibuan, melainkan dorongan psikis. Dorongan ini Nampak jelas dalam cinta bapak kepada anak-anaknya, karena mereka sumber kesenangan dan kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan factor penting bagi kelangsungan peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia. Ini terlihat kelas dalam do’a Nabi Zakaria As, yang memohon pada Allah semoga ia dikarunia seorang anak yang akan mewarisinya dan mewarisi keluarga Ya’qub :
“Ia berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalm berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seseorang yang diridhai” (QS, Maryam, 19:4-6)
Cinta kebapakan dalam Al-Qur’an diisyratkan dalam kisah Nabi Nuh As. Betapa cintanya ia kepada anaknya, tampak jelas ketika ia memanggilnya dengan rasa penuh cinta, kasih sayang, dan belas kasihan untuk naik ke perahu agar tidak tenggelam ditelan ombak.

2.5    Studi Kasus
Pengorbanan, perjuangan, semangat, dan apa pun itu rela dilakukan seorang bapak demi mewujudkan cita-cita anaknya, membahagiakan anaknya dan keluarganya. Anak adalah tanggungan orang tua, anak adalah harta yang tidak ternilai harganya, apa pun rela dilakukan demi mengukir kebahagiaan anak dan keluarganya.
Bapak ini bernama Sugiyanto, rela menjual ginjal untuk menebus ijazah SMP dan SMA anak perempuannya yang bernama Sarah Melinda Ayu selama bersekolah di Pondok Perantren Al Asriyah Nuruk Iman, pria yang bekerja sebagai penjahit itu harus membayar Rp 17 juta.
Sugiyanto mengatakan, tadianya ia harus membayar sejumlah uang administrasi selama Ayu menempuh pendidikan di pondok pesantren yang terletak di Desa Waru Jaya, Parung, Bogor. Dia harus membayar Rp 70 juta sebab sekolah itu meminta Sugiyanto membayar Rp 20.000 per hari sejak Ayu masuk pesantren dari tahun 2005. Sampai akirnya setelah Sugiyanto meminta keringanan dari pihak pesantren, ia hanya disuruh membayar Rp 17 juta untuk kedua ijazah tersebut, dengan rincian ijazah SMP senilai Rp 7 juta dan ijazah SMA senilai Rp 10 juta. Walau demikian, ia tetap belum mampu menebus ijazah tersebut.
Sugiyanto tidak mampu membayarkan ijazah anaknya karena ia tidak mempunyai penghasilan tetap. Warga Kebon 200, Kelurahan Kamal, Jakarta Barat, ini sehari-harinya menerima pesan jahit pakaian di dekat rumahnya. Penghasilannya hanya sekitar Rp 60.000 sampai Rp 80.000 per hari, itu pun untuk memenuhi kebutuhan hidup kelima anaknya. 
Perjuangan Sugiyanto demi menembus ijazah anaknya itu sungguh menarik perhatian banyak pihak, factor ekonomi memang sangat berpengaruh dalam kebutuhan hidup seari-hari. Berbagai macam cara rela dilakukan demi mendapatkan uang.
Jika kita melihat artikel terkait, sudah banyak sekali kasus yang serupa, yang rela menjual organ dalam tubuhnya demi suatu hal. Lagi-lagi, masalah ekonomi yang membuat seseorang nekad untuk menjual organ dalam tubuhnya. Selain factor ekonomi, sukarnya mencari pekerjaan juga menjadi factor yang tidak kalah pentingnya untuk dilihat. Luapan dan padatnya penduduk Indonesia serta minimnya lapangan kerja menjadi pr para pemerintah untuk lebih cepat dan tepat menanganinya. Tetapi, jika kita melihat dari segi kasih sayang orang tua terhadap anaknya ya itulah orang tua, yang rela melakukan apa saja demi memperjuangkan anaknya, demi mewujudkan cita-cita anaknya. Itulah kasih sayang dan cinta kasih orang tua terhadap anaknya, tidak akan bisa terbalaskan.




BAB 3
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Pada materi ini kita dapat lebih mengerti apa itu cinta kasih, apa itu kasih sayang, apa itu cinta menurut agama, dan apa itu cinta yang kebapakan. Cinta dan kasih sayang adalah rasa tidak pernah luput dari perasaan manusia, cinta terhadap sesama, cinta kepada Tuhan, cinta kepada anak, cinta kepada orang tua, cinta kepada teman dan sebagainya. Kita tahu batas-batasan cinta, kita harus tahu dimana kita harus menempatkan cinta, kita harus mengerti cinta yang seperti apa yang harus kita berikan. Tunjukan cintamu dengan kelakuanmu, dengan perbuatan dan bukan hanya dengan perkataan.
Pengorbanan dan perjuangan yang dapat kita ambil dari kasus diatas bisa dijadikan motivasi untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Dalam menghadapi masalah manusia tentu mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menangani masalah itu sendiri, maka dari itu sebagai manusia haruslah bersikap positif dalam mengambil tindakan, dan yakin bahwa setiap masalah yang diberikan Tuhan untuk kita adalah rezeki yang menaikan derajat kita dimata-Nya.
3.2    Saran
Disarankan kepada pembaca untuk lebih perihatin dan memperhatikan lingkungan sekitar, saling tolong-menolong dan lebih semangat lagi dalam menghadapi masalah. Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini, maka dari itu kritik dan saran sangat diperlukan guna memperbaiki makalah ini. Saya juga menyarankan pembaca bisa melakukan studi kasus dan meneliti sub bab ini lebih lanjut lagi, melihat begitu banyak kasus yang dapat dibahas berdasarkan materi bab ini.

Daftar Pustaka:
Universitas Gunadarma, Diklat Kuliah Ilmu Budaya Dasar, Edisi 2007 (Widyo Nugroho, Achmad Muchji)

3 komentar:

Apipudin Sampaleun mengatakan...

ini bukan skripsi, tidak perlu pake rumusan masalah.11

Apipudin Sampaleun mengatakan...

ini bukan skripsi tidak perlu memakai rumusan masalah

Apipudin Sampaleun mengatakan...

tolong judulnya disebutkan, jangan sampai judulnya ghaib. Sehingga pembaca berfikir lama untuk menebak atau melihat.